Manado Doeloe, Kini dan Masa Depan

Caritasulut.com, Manado – Manado Institute gelar diskusi perdana bertajuk “Manado Doeloe, Kini dan Masa Depan” di Malendeng Residence, Sabtu (24/1/2026).

Direktur Manado Institute, Ivan Kaunang, menjelaskan alasan berdirinya lembaga tersebut.

“Pertama karena kelompok-kelompok studi di jaringan Mawale Movement rata-rata ada di ‘gunung’. Makanya kali ini kami bikin di Manado,” kata Kaunang.

Ia mengatakan kegiatan yang digelar tersebut tidak hanya mengajak jaringan Mawale Movement untuk berdiskusi. Ivan mengungkapkan bahwa sejumlah grup media sosial yang berkaitan dengan seni dan budaya juga diundang.

“Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), termasuk grup dosen FIB Unsrat kami undang. Dewan Kebudayaan Manado kami undang, Komunitas Seni Budaya Nusa Utara kami undang,” ungkap Kaunang.

Ia menjelaskan bahwa kebanyakan komunitas jejaring sering memakai kata ‘Minahasa’ di belakang nama komunitas. Menurutnya, mereka sengaja menggunakan kata ‘Manado’.

“Jaringan kita kebanyakan memakai Minahasa di ekor sebagai nama komunitas atau kelompok studi, kali ini kami sengaja menggunakan kata Manado. Tentu bukan karena hanya untuk sekadar berbeda,” lanjut Ivan.

Ia juga menjelaskan alasan penggunaan kata Institute. Kata tersebut digunakan berdasarkan kesepakatan sejumlah orang yang terlibat dalam perumusan awal pendirian Manado Institute.

“Kedua, kenapa institute, karena sesuai hasil kesepakatan teman-teman yang terlibat dalam diskusi awal, gunakan kata itu. Karena aktivitas kita selain diskusi, mengkaji sesuatu, menganalisis sesuatu, memberi pendapat, dan lain sebagainya,” jelasnya.

Manado Institute lahir dari perasaan bahwa masih perlu ada kajian-kajian yang fokus tentang Manado dan jumlahnya masih sangat banyak.

“Institut kan itu sekolah, jadi mengkaji banyak hal. Kalau bicara Manado bukan hanya Minahasa, ada suku-suku bangsa lain, multikultur. Ada Tionghoa, Arab, Ternate, Gorontalo, Bajo, Bugis, macam-macam yang ada di sini,” lanjutnya.

Ia mengatakan bahwa masih banyak aspek historis dan budaya yang perlu dikaji, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurutnya, saat ini masyarakat terkadang sudah lupa dari akar sejarah.

“Jadi Manado Institute tidak akan lepas dari penelitian, pendidikan, pengabdian, publikasi.
Pertemuan pertama sebagai launching, untuk memberitahukan kepada teman-teman yang bergelut dalam bidang yang sama tentang kami dan aktivitas kami saat ini dan nanti,” pungkas Ivan.

 

(Leon Wilar)

Related Posts

DPRD Tomohon Ucapkan Selamat Idul Fitri 1447 Hijriah

Caritasulut.com, Tomohon – DPRD Kota Tomohon menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah kepada seluruh masyarakat Kota Tomohon. Ucapan tersebut disampaikan oleh Ketua DPRD Ferdinand M.…

Atasi Kelangkaan LPG 3 Kg, Rumambi Ingatkan Agen Jangan Menimbun

Caritasulut.com, Manado – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Manado, Reza Rumambi, memperingatkan agar agen jangan menimbun atau menjual LPG di atas harga eceran tertinggi. Rumambi juga mendesak instansi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *